efek mere exposure
mengapa kita mulai menyukai desain yang awalnya terasa aneh
Mari kita ingat-ingat kembali momen ketika Apple pertama kali merilis iPhone 11 Pro. Saat itu, internet langsung meledak. Desain tiga lensa kameranya diolok-olok habis-habisan. Ada yang menyebutnya mirip fidget spinner, kompor gas, hingga boba minuman kekinian. Hampir semua dari kita sepakat bahwa desain itu aneh dan merusak estetika. Tapi coba lihat apa yang terjadi satu atau dua tahun kemudian. Desain "boba" itu tiba-tiba terasa normal. Bahkan, ia mulai terlihat mewah dan ditiru oleh banyak merek lain. Tiba-tiba saja, kita menginginkannya. Pernahkah teman-teman memikirkan kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Apakah selera estetika kita sebegitu mudahnya rusak? Ataukah ada sesuatu di dalam kepala kita yang diam-diam mengubah cara kita melihat dunia? Mari kita bedah fenomena aneh ini bersama-sama.
Kejadian seperti ini sebenarnya tidak hanya berlaku pada gawai. Ingat saat Instagram mengubah logonya dari kamera retro menjadi kotak gradasi warna-warni? Kita semua protes. Tapi sekarang, kalau kita melihat logo yang lama, rasanya kuno sekali. Pergeseran selera ini terjadi sangat mulus sampai-sampai kita tidak menyadarinya. Pada tahun 1960-an, seorang psikolog bernama Robert Zajonc sangat penasaran dengan fenomena ini. Ia kemudian merancang sebuah eksperimen sederhana. Zajonc menunjukkan sekumpulan karakter yang menyerupai huruf Tiongkok kepada sekelompok orang yang sama sekali tidak mengerti bahasa tersebut. Beberapa karakter dimunculkan berkali-kali. Karakter lainnya hanya dimunculkan satu atau dua kali. Hasilnya sungguh mengejutkan. Partisipan menilai karakter yang sering muncul sebagai karakter yang "lebih baik" dan bermakna positif. Tidak ada iming-iming hadiah. Tidak ada tekanan sosial. Semuanya murni hanya karena mereka sering melihatnya. Tapi, kenapa pikiran kita bisa disetir semudah itu oleh pengulangan? Ternyata, ada sebuah rahasia bertahan hidup di balik ini.
Untuk memahaminya, kita harus mundur jauh ke masa lalu. Coba bayangkan kita adalah manusia purba yang sedang berjalan menyusuri hutan yang lebat. Tiba-tiba, kita melihat sebuah tanaman dengan bentuk buah yang sangat aneh dan berwarna neon menyala. Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan langsung memetik dan memakannya? Tentu saja tidak. Insting purba kita akan langsung membunyikan alarm tanda bahaya. Dalam kerasnya hukum alam, sesuatu yang baru dan asing adalah potensi ancaman. Sesuatu yang tidak kita kenal bisa saja beracun atau mematikan. Namun, bayangkan jika kita terus melewati rute yang sama setiap hari. Kita melihat tanaman aneh itu berminggu-minggu. Tanaman itu diam saja. Ia tidak menyerang kita. Kita juga melihat burung-burung memakannya dan tetap hidup. Perlahan-lahan, alarm bahaya di kepala kita mereda. Rasa waswas berubah menjadi rasa aman. Pada titik inilah, kita mulai menyadari satu hal penting tentang rancangan otak kita. Otak manusia tidak diciptakan untuk mencari keindahan absolut. Otak kita dirancang untuk mencari sesuatu yang jauh lebih mendasar. Sesuatu yang di masa lalu menjadi penentu antara hidup dan mati. Apakah itu?
Jawabannya adalah rasa aman yang hemat energi. Inilah yang di dunia sains dan psikologi dikenal dengan sebutan mere exposure effect atau efek paparan murni. Jujur saja, otak kita sebenarnya sangat pemalas. Memproses sesuatu yang baru itu butuh kalori ekstra dan fokus yang tinggi. Ketika kita melihat desain kamera boba atau logo baru untuk pertama kalinya, otak kita harus bekerja keras mencerna informasi visual yang tidak familier itu. Proses ini memicu ketidaknyamanan ringan. Kita lalu menerjemahkan rasa tidak nyaman itu dengan kata "jelek" atau "aneh". Namun, setelah kita terpapar desain itu ratusan kali—lewat iklan, media sosial, atau ponsel teman kita—desain tersebut masuk ke dalam memori jangka panjang. Desain itu akhirnya mencapai tahap yang disebut cognitive fluency atau kelancaran kognitif. Otak kita tidak perlu lagi bekerja keras untuk mengenalinya. Karena prosesnya menjadi sangat mudah, otak memberi kita sedikit hadiah berupa dopamin. Perasaan rileks dan familier ini kemudian diterjemahkan oleh emosi kita sebagai rasa "suka". Jadi faktanya, desain itu tidak berubah menjadi lebih bagus. Otak kitalah yang menjadi lebih lancar dalam memprosesnya.
Memahami mere exposure effect membuat kita sadar betapa cair dan fleksibelnya selera kita. Perusahaan-perusahaan besar dan para desainer top sangat memahami celah psikologis ini. Mereka tidak takut merilis produk dengan desain yang mendobrak kebiasaan dan terasa aneh di awal. Mereka tahu, selama produk itu dibombardir ke hadapan kita secara terus-menerus, benteng pertahanan kita akan luluh juga. Namun, kita tidak perlu merasa tertipu atau dimanipulasi. Ini bukanlah cuci otak. Ini sekadar bukti betapa luar biasanya biologi kita beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Mulai sekarang, ketika teman-teman melihat sebuah tren atau desain baru yang terasa mengganggu mata, coba beri jeda sejenak. Tanyakan pada diri sendiri: apakah desain ini memang benar-benar buruk, ataukah otak kita hanya sedang mengeluh karena dipaksa bekerja sedikit lebih keras? Terkadang, batas antara desain yang "aneh" dan "brilian" hanyalah masalah seberapa sering mata kita bersinggungan dengannya. Mari kita nikmati proses belajar otak kita ini dengan pikiran yang lebih terbuka dan tentunya, lebih kritis.